Ah Bukan Covid, Hanya Masuk Angin

Sekian lama saya tinggal di Indonesia, di wilayah Jawa Tengah pula. Ada sebuah nama penyakit tradisional yang terkenal di kampung saya. Penyakit ajaib yang sulit untuk dibuat definisi pastinya.

Nama penyakitnya adalah Masuk Angin. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Inggris jadi apa ya? Enter Wind?

Badan pegal-pegal, dibilang masuk angin.

Perut kembung, disebut masuk angin.

Muntah-muntah? Ah tanda-tanda masuk angin tuh.

Diare? Itu pasti cuma masuk angin.

Sakit gigi? Efek masuk angin tuu.

Begitulah sebagian besar jawaban yang akan saya dapatkan kalau saya sambat atas setiap gangguan kesehatan. Semua gejala akan bermuara di istilah “Masuk Angin”. Yap, masuk angin adalah hasil sebuah kesepakatan.

Belum lagi kalau curhatnya pada tukang pijat tradisional. Biasanya sarannya adalah “Pijat badan saja mbak, sekalian kerokan”. Yaiyalah dia kan tukang pijat.

Kembali lagi ke cerita tentang penyakit sejuta umat ini. Kok ya ndilalah sebagian penduduk di kampung saya itu percaya bahwa covid itu sebenarnya hanyalah penyakit masuk angin.

Beberapa minggu yang lalu ada beberapa warga kampung saya yang terindikasi positif covid. Sudah dibuktikan pula dengan hasil rapid test antigen. Sesuai peraturan dari Puskesmas, mereka diharuskan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari. Seharusnya, selama dua minggu mereka tidak boleh kontak fisik / berdekatan dengan orang lain. Tujuannya adalah agar tidak menularkan virus covid pada orang lain.

Suatu pagi saya bertemu dengan tetangga saya. Kebetulan dia adalah kakak dari salah satu warga yang sedang isoman. Biasa dong ngobrol sebentar basa basi ala tetangga.

“Kabar adiknya bagaimana mbak? Sudah ada perbaikan kondisi kesehatan?” kata saya.

Tetangga saya menjawab santai, “Sudah membaik mbak, saya pijati, saya kerokin, wong cuma pegal-pegal masuk angin. Bukan covid itu. Keluarga saya juga pernah kok mangalami gejala itu. Ya cuma dikerokin dan dipijat saja biar lekas sembuh”.

Tanpa berpikir panjang, saya mencari cara untuk segera kabur dari hadapannya.

Hari berikutnya salah satu istri warga yang positif covid kebetulan memberi komentar pada status whatsapp yang baru saya update.

Dia sekeluarga sedang isoman. Pertanyaan yang sama saya lontarkan, “Apa kabar mbak, masih isolasi mandiri?”

Dia menjawab, “Masih mbak, suamiku cuma sakit gigi, bukan covid. Karena sakit nggak sembuh-sembuh, yasudah aku bawa ke dokter gigi biar diobati.”

Duh…dalam hati saya berdo'a, semoga dokter giginya tidak tertular virus itu.

Dari beberapa pengakuan tak disengaja, ternyata beberapa warga kampung saya mengaku pernah mengalami anosmia (kehilangan indera pembau) dan indera perasa. Semua makanan terasa hambar dan mereka tidak bisa mencium bau apapun di sekitarnya. Semua gejala yang diceritakan mengarah ke gejala penyakit covid.

Apakah mereka berinisiatif untuk berobat ke rumah sakit atau puskesmas? Tentu tidak… Mereka memilih diam sampai gejala sakitnya hilang.

Sebagian dari mereka sembuh setelah beberapa hari ngedrop. Sebagian lagi mengalami perburukan keadaan hingga perlu dirujuk ke rumah sakit. Beberapa diantaranya wafat dan terindikasi positif covid. Begitupun, tetap ada komentar nyinyir dari penduduk kampung saya tentang rumah sakit yang sengaja mengcovidkan pasiennya.

Apakah mereka yang nyinyir itu tidak cukup berpendidikan? Tidak juga. Sebagian berpendidikan tinggi, lulusan universitas ternama. Sayangnya mereka memilih untuk lebih percaya pada berita hoax yang beredar di media sosial.

Kalau sudah seperti ini, yang bisa saya dan keluarga saya lakukan adalah fokus menjaga kesehatan diri. Kami tetap menjalankan kegiatan harian seperti bekerja, berbelanja, dan lainnya. Tidak mengurung diri terus di rumah. Bedanya, kami ketat menjalankan protokol kesehatan. Terutama memakai masker.

Tidak apa-apa jika kami dianggap aneh karena memakai masker terus saat keluar rumah.

Tidak mengapa kami dijadikan bahan gunjingan tetangga karena menghindari kerumunan. Mengurangi kehadiran di acara yang berpotensi kerumunan, seperti rewang dan duduk-duduk sore ngobrol nggak jelas di teras rumah tetangga.

Tidak masalah jika kami dianggap terlalu paranoid sejak awal pandemi hingga saat ini.

Tak mengapa harus berburu vaksin sebagai ikhtiar melindungi kesehatan diri. Sementara banyak orang berkata “Ngapain divaksin kalau masih ada kemungkinan kena virus juga?”

Tidak apa-apa… Biarkan saja. Kesehatan kita adalah tanggung jawab kita sendiri, kan?

Semoga badai pandemi ini lekas berlalu.