Manusia Yang Tahu Batas Rasa Cukupnya

Setiap hari, sekitar jam enam pagi, saya terbiasa pergi ke luar rumah untuk berbelanja. Kadang belanja sayur dan bahan makanan mentah ke pasar. Kadang saat tidak ingin memasak, saya membeli sayur matang, soto, gudeg atau sekedar kue-kue jajanan pasar untuk sarapan sekeluarga. Sesuai dengan kebutuhan saja.

Saya menikmati setiap momen perjalanan pagi itu. Nikmatnya menghirup udara yang masih bersih dari polusi dan melihat aktivitas manusia yang memulai hari dengan wajah penuh harapan. Di sepanjang perjalanan, tidak jarang saya bertemu dengan manusia-manusia yang memiliki pola pikiran sederhana. Ngobrol dengan mereka membuat saya kembali memandang dunia dengan cara yang lebih simple.

Misalnya Pak Wiwit, penjual soto ayam kampung yang berjualan di dekat Apotik Kawatan, Kota Magelang. Biasanya gerobak sotonya stand by di lokasi sekitar jam 6 pagi hingga jam 10 siang. Katanya sih sudah sejak tahun 1998 dia berjualan soto ayam. Sejak lulus sekolah, Pak Wiwit sudah membantu orangtuanya berjualan soto. Hingga akhirnya dia bisa mandiri membuka warung sotonya sendiri.

Suatu ketika saya ngobrol sejenak sambil menunggu soto pesanan saya selesai dibungkus.

“Sotonya laris banget ya Pak, sehari kira-kira berapa ratus porsi ya yang terjual?”, tanya saya.

Pak Wiwit menjawab, “Alhamdulillah mbak, sudah membaik dibanding saat awal pandemi dulu. Saya jualannya nggak banyak, asal sudah laku 80-100 porsi, saya merasa cukup, lalu pulang. Ada banyak sekali penjual soto di kota ini. Di sepanjang jalan ini saja ada beberapa. Biar semua bisa kebagian pembeli.”

Selama ini saya berpikir bahwa warung yang terlihat laris akan berusaha memaksimalkan porsi jualannya. Tidak jarang mereka menambah waktu buka warungnya atau bahkan membuka warung cabang di lokasi lainnya. Sebagian menggunakan pola pikir “Yang kuat akan menggilas yang lemah”. Eh kok ternyata masih ada penjual dengan prinsip berjualan yang ekologis.

Pola pikir manusia yang tahu batas cukupnya berbeda dengan manusia yang tidak mempersiapkan masa depan. Pak Wiwit ini punya rencana-rencana untuk masa depan anak-anaknya. Yang berbeda adalah, dia menjalani ikhtiarnya tanpa rasa tamak. Sehingga perjalanan hidupnya jauh dari rasa stres atau menyalahkan pihak lain saat mengalami hambatan hidup.

Besok pagi kira-kira saya bakal nemu cerita seru apa lagi ya?